Pembatasan Kuota Impor Daging Sapi 2015: Apa Benar Harus Segitunya?

Hari ini saya baru benar-benar merasa sedih atas kebijakan pembatasan kuota impor daging sapi di 2015 ini, agar swasembada pangan bisa terwujud.

Saya bukan importir, pengusaha lokal sapi, atau apapun. Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga, dari suami yang menjadi pegawai dari perusahaan importir sapi.

Sekilas, cetusan swasembada pangan seakan menjadi bentuk upaya perwujudan janji Pak Presiden kita, bahwa Indonesia mampu swasembada pangan di bawah kepemimpinan beliau. Itu merupakan hal yang sangat baik, dan saya sangat yakin suatu saat nanti kita mampu mandiri tanpa label import dari setiap barang yang kita konsumsi. Akan tetapi, apakah perubahan itu harus se-mendadak ini?

Kuota Impor Daging Sapi 2015 di batasi
Suatu ketika suami saya mengeluh sepulangnya bekerja. Bahwa 3 bulan kedepan hanya mendapat jatah 50.000 sapi untuk kuota kantornya. Dari yang biasanya per 3 bulan diberi kuota 250,000 sekarang turun drastis. Ya, hanya 50,000 untuk berjualan selama 3 bulan. Alasannya, mau swasembada pangan. Ketar-ketir lah kami. Bagaimana tidak, sang direktur saja sempat meramalkan jika kondisi ini terus ada, maka bukan tidak mungkin perusahaan suami saya itu gulung tikar. Akibatnya? ya PHK!

Nah, disini mula letak kekesalan saya. Beberapa hari saya terus menonton berita. Muncullah headline di salah satu tv berita nasional bahwa; Menteri Perdagangan akan menyelidiki dan menginvestigasi, berapakah sebenarnya kapasitas produksi sapi lokal dan kebutuhan akan daging sapi di seluruh Indonesia. Walah, saya kaget bukan kepalang.

Lah berarti selama ini, beliau membatasi kuota asal mengeluarkan putusan sembarangan dong? tanpa ‘cek sana-sini’ dulu? Kok baru mau investigasi kebutuhan konsumen dan kemampuan produsen lokal sekarang sih??

Mohon maaf sebelumnya apabila saya berbicara seperti ini. Saya memang mencoba menganalisa mengapa kalimat itu terlontar dari mulut beliau. Oke, lanjut.

Berarti, saya yang orang kurang berpengalaman ini berpendapat, beliau membatasi kuota impor daging sapi tanpa tahu data valid berapa sih konsumsi masyarakat terhadap daging sapi seluruh indonesia, dan berapa kapasitas produsen lokal dalam memenuhi demand yang ada??

Bukankah jika ingin memutuskan sesuatu kita cari tahu terlebih dulu apa info yang mendasari keputusannya ‘kan?

Saya ini bukan pakar apa-apa. Layaknya anak S1 Ekonomi jurusan akuntansi, yang ujung-ujungnya menikah dan selalu memikirkan bagaimana hemat berbelanja. Mendengar itu semua saya ketakutan, takut suami saya di-PHK. Apalagi saya tengah hamil muda.

Saya juga paham, bahwa Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian kita ditunjuk oleh Bapak Jokowi, berasal dari kalangan profesional. Namun, mengapa seperti ini.. Seakan masing-masing pihak berlomba mengagasi program-program revolusioner dalam waktu ‘instan’.

Impor Daging Sapi 50.000 ekor ditampung oleh Bulog
Ini lagi satu berita yang saya baca tadi melalui detik.com,  langkanya daging sapi dipasaran ternyata membuat pedagang daging mogok berjualan agar harga kembali turun. Karena itu pemerintah memutuskan untuk impor daging sapi sebanyak 50.000, dan akan didistribusikan ke pasar-pasar dengan harga 90.000/kg oleh bulog.

What, oleh bulog?

Terus nasib perusahaan swasta nasional dan asing yang usahanya import daging sapi bagaimana pak Menteri?
Jadi berlimpah daging sapi siap potongnya cuma dikuasai oleh bulog seorang?
Kok jadi seperti upaya monopoli daging sapi ya? 😦

Ternyata saya baru dapat update bahwa yang akan mendapat impor daging sapi yakni BUMN kita, yakni PT Berdikari.

Masih ingat kan, kasus indoguna yang ternyata mendapat privelege alias kuota impor sapi lebih banyak dari pt lain?

Apa bedanya indoguna dengan PT Berdikari tersebut?

Entah Bulog/BUMN bebas impor daging sapi dikala program swasembada yang (katanya) akan memajukan produksi lokal, namun kok jadi seperti memonopoli perdagangan daging menurut saya, karena perusahaan swasta diberikan kuota impor serendah-rendahnya.

Lah, kalo Anda di posisi pengusaha importir daging sapi, hal tersebut nampak seperti mematikan pengusaha2 itu di Indonesia ngga sih pak?

Lalu selanjutnya mereka mulai mengurangi biaya operasional, rugi bulanan, dan akhirnya memutuskan memecat karyawannya. Apa hal itu tidak Anda pikirkan wahai pak Menteri?

Seperti kita ketahui, pak Menteri Perdagangan memiliki background yang bisa dibilang outstanding. Memegang Panas*n*c, menjadikan kredibilitasnya tak diragukan lagi. Bisnis produk manufaktur tentu telah dikuasainya. Namun, mengapa keputusan-keputusannya seakan hanya jalan pintas untuk menenangkan rakyat jangka pendek?

Kenapa saya pedas seperti ini? Mohon maaf mungkin bawaan jabang bayi 😦

Begini. Setelah kabar berita bahwa bulog melalui operasi pasar mendistribusikan daging, dengan kata lain memegang kendali boleh mengimpor daging, ternyata pak Menteri juga mengatakan akan memberikan sanksi tegas bagi perusahaan yang menimbun sapi-sapinya. Semua harus dijual katanya.

Nah disini saya sedih menjadi-jadi. Mungkin dia berpikir, perusahaan-perusahaan swasta ini menimbun stok sapi supaya harganya mahal, agar terjadi kelangkaan daging di pasaran. Padahal yang terjadi tidak sama sekali seperti itu (emosi)! Yang terjadi adalah karena stock sapi kuotanya terbatas, mereka harus bisa berhemat jualan, supaya bulan depannya tidak merugi karena tidak ada sapi untuk dijual.

Anda ingat kan tadi saya menyebutkan ada batasan kuota terhadap impor daging yang semula 250ribu jadi 50ribu per 3 bulan di awal tulisan ini? Nah, beliau memberi batasan kuota tersebut kepada para importir, hal ini mengakibatkan perusahaan harus berhemat-hemat melepas penjualan sapi tiap bulannya. Kalo mereka lepas semua stok sapi yang dimiliki bulan ini, lalu habis semua (karena memang dikasih kuota terbatas), terus 2 bulan sisa kedepannya mereka mau jualan apa???? kan merugi pasti perusahaan karena sapinya habis dijual, padahal kuota dari pemerintah per 3 bulan sangat terbatas.

Para perusahaan pada mau jual apa kalo stoknya habis karena dibatasi pak? kaya gitu eh malah dikasih sanksi tegas kalo ‘ngga nurut’.

paham kan?? dia yang batasi stok daging masuk ke indo, sekarang dia juga seperti nyalahin perusahaan importir (yang dibatesin tadi) karena daging jadi langka di pasar, padahal akibat kapasitas lokal tidak menyanggupi. Dia juga seakan-akan nyuruh perusahaan importir abisin stok yang udah dibatasi sama dia kuotanya, mesti abis dijual bulan itu juga, padahal mereka harus melakukan hemat stock sapi untuk dijual bulan depannya agar mampu hasilkan laba tiap bulannya. Lucu kan?

Lah wong beliau orang bisnis, apa tidak terpikir sejauh ini akibat batasan kuota tersebut.

Kenapa ngga di buka aja kuota impor sapi seperti dulu-dulu yang ada. Sambil berjalannya waktu, pelan-pelan sapi lokal dibagusin kualitasnya. Pelan-pelan dipelajari mengapa cost mendatangkan sapi impor dari Australia bisa jauhhhhh lebih murah ketimbang ‘impor’ dari Sumbawa. Yup, Sumbawa! Belajar juga mengapa mereka, mampu jadi pengekspor sapi dan daging yang besar.

Bukan maen asal batasin sana-sini tanpa persiapan yang matang seperti ini. Bagai membiarkan anak bayi umur 1 tahun berjalan sendiri untuk mengambil makanan yang dia butuhkan.

Tolonglah pak, swasembada pangan itu memang cita-cita bangsa kami. Hanya jika di lakukan dengan perencanaan yang MATANG, serta tidak merugikan khalayak banyak.

Berapa banyak pegawai perusahaan impor daging sapi yang mungkin saja kehilangan mata pencahariannya hanya karena bapak tidak meneliti terlebih dulu dampak makro yang ditimbulkan dari pembatasan kuota tersebut?

Selain itu, mengapa Bapak Menteri Pertanian seakan tidak meneliti terlebih dulu kesiapan para peternak lokal kami? Supaya mereka bukan hanya mampu memenuhi permintaan konsumen seluruh Indonesia, tapi mutu daging juga setara daging impor yang baik dan tergolong murah. Semua itu tidak mudah. Semua itu butuh proses.

Tapi perubahan itu seharusnya bertahap, bukan mendadak. Agar dampaknya juga panjang.

Mungkin masyarakat juga salah, telah menuntut aksi nyata terhadap janji-janji kampanye yang ada. Hanya segelintir yang mungkin saja mampu mencerna, bahwa melakukan perubahan yang fundamental tidak dapat dilakukan tanpa perencanaan hanya karena masyarakat butuh cepat, tindakan nyata. Kalo seperti ini, ujungnya malah amburadul. Semua serba mau cepat, tanpa pikir panjang asal tunjuk, asal ketok palu memutuskan yang ada.

Semoga suatu saat tulisan ini dapat dibaca oleh bapak menteri. Bukan untuk menjelek-jelekkan, tetapi hanya untuk jadi bahan renungan, apakah harus sebegininya. Perekonomian sedang sulit, phk seperti mimpi buruk bagi suami dan saya,

Hanya karena kuota dibatasi, harga melonjak, stok jualan kedepannya terpaksa dihabiskan supaya tidak terkena sanksi, dan berujung merugi karena habis stok sapinya di bulan berikutnya.

Intinya, melalui cerita yang saya dengar, tidak ada satupun perusahaan importir sapi yang DENGAN SENGAJA menimbun sapi agar harga naik.

Ini semata-mata MEMANG HARUS MEREKA lakukan karena batasan kuota yang bapak putuskan. semata-mata DEMI MAMPU BERJUALAN DI BULAN BERIKUTNYA AGAR BISA MENGGAJI KARYAWAN MEREKA!

sama sekali bukan keinginan mereka, apalagi nakalan. mau nakalan gimana? iya kalo stock sapi nya berlimpah, ini stock aja sedikit banget, apa yang mau dicurangi pak?? sungguh tak mendasar seorang ketua asosiasi pengusaha mengujar bahwa ada kartel yang menahan stok sapi-daging, dari apa yang saya tonton berita tadi siang.

Direktur suami saya sampai bergurau “siap2 ya kalian ngga digaji 2 bulan karena adanya sanksi tegas tsb, karena kita tidak bisa lagi menyimpan stock sapi utk bulan berikutnya”.

Saya mendengar cerita itu langsung menitik air mata berulang2 sambil berujar, mengapa harus seperti ini..

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca uneg-uneg saya. Mohon maaf bila kurang berkenan oleh berbagai pihak. Saya hanya tidak tahu lagi harus bagaimana saking takut suami saya di PHK.

Terima kasih…

Iklan

Hi! thank for read my blog & don't forget to leave comments :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s