Politik Indonesia 50 Tahun Mendatang

Banyak perubahan yang Indonesia alami 10 tahun terakhir ini. Ada yang diantaranya berhasil, maupun yang masih butuh banyak perbaikan. Menyoroti kejadian setelah tragedi 98, suara demokrasi diteriakkan lantang oleh rakyat Indonesia. Namun, apa hal itu telah sesuai dengan esensinya?

Menyuarakan gagasan dan transparansi memang intisari dari demokrasi itu sendiri. Tetapi nyatanya demokrasi justru jadi alat politik brutal yang membabi buta di panggung pemerintahan. Dijadikan tameng bagi sekelompok orang untuk memfitnah, bertindak sesuka hati, dan tak bertanggungjawab memikirkan baik buruknya.

Media pun nampaknya juga seperti kehilangan kendali. Meruntuhkan yang benar, dan menjunjung kebohongan hanya demi meraup keuntungan. Lihat saja pemilihan presiden 2014 yang terjadi saat ini. Seperti apa melihatnya? Media berhasil mengadu domba rakyat Indonesia; kita semua ini. Bahkan keluarga di dalam 1 rumah pun bisa berantem dibuatnya.

Beruntunglah masih ada rakyat Indonesia yang memakai logika dan hati nurani. Karena sepertinya hukum demokrasi di Indonesia masih banyak yang harus dikaji. Kebebasan untuk memilih, dan dipilih, nyatanya justru lebih banyak menuai sisi negatif.

Bayangkan, artis senonoh saja mencalonkan diri mereka ke kancah legislatif. Tak mau kalah, penyanyi dangdut yang bias pendidikannya, juga ikutan mencalonkan diri jadi presiden kita. Luar biasa!

Dimana pemikiran kritis kita sebagai manusia menanggapi fenomena itu?

Sebaliknya, manusia-manusia pintar dan berpendidikan memilih untuk diam dan menyaksikan parade sirkus pemerintahan kita. Apa ini yang kita mau dari Indonesia 50 tahun kedepan?

Menunggu politikus Indonesia lahir bak badut-badut haus tepuk tangan dan saweran dari rakyat.

Berkat media jugalah rakyat yang kurang menelaah informasi, menelan mentah berita miring sehingga mereka berlaku fanatis tanpa rasional mendukung yang seharusnya pantas dihukum karena kasus pelanggaran HAM Prabowo. Hebat ya peran media?

Pemilihan Presiden Indonesia 2014: Prabowo vs Jokowi, sebenarnya contoh kasus nyata bagaimana demokrasi sebenarnya ber’suara’. Tanpa disuruh, pendukung Jokowi sendiri yang menampilkan bukti nyata beliau bekerja. Sebaliknya, pendukung Prabowo diketahui membayar survey palsu yang menyatakan dirinya lebih unggul dari si salam dua jari. Hal ini juga lagi-lagi harus ditelaah lebih lanjut oleh masyarakat. Bahwa media bisa sangat menyesatkan, jadi sebaiknya kita menilai kinerja dari para calon pemimpin kita dari berbagai aspek. Aspek kinerja masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Karena terlalu berbahaya jika kita hanya berpatokan dengan media online dan televisi tertentu.

Ayo jadi masyarakat kritis demi Politik Indonesia yang bersih 50 tahun mendatang! 🙂

Iklan

Hi! thank for read my blog & don't forget to leave comments :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s